Ancaman Zoonosis (Hantavirus)

Penemuan 1 kasus positif di Sulut, risiko tinggi pada area padat dan bersanitasi buruh

6/6/20262 min read

  1. Antisipasi Kasus Hantavirus

    Pemerintah Kota Manado bersama instansi kesehatan terkait perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman penyakit Hantavirus. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia per Mei 2026, telah ditemukan 1 kasus terkonfirmasi positif di Provinsi Sulawesi Utara. Meskipun baru satu kasus, keberadaan virus ini menjadi sinyal awal bahwa potensi penularan di wilayah Kota Manado sangat nyata, mengingat kondisi lingkungan dan perilaku masyarakat yang dapat memfasilitasi penyebaran zoonosis ini.

  2. Vektor

    Vektor utama penularan Hantavirus adalah tikus dan celurut (sejenis tikus berkaki panjang). Di wilayah Kota Manado, populasi kedua hewan pengerat ini tergolong tinggi, terutama di kawasan yang kumuh, banyak sampah, dan minim kebersihan. Tikus dan celurut yang terinfeksi virus tidak menunjukkan gejala sakit secara kasat mata, sehingga masyarakat sering kali tidak menyadari keberadaan vektor berbahaya ini di sekitar mereka.

  3. Transmisi

    Penularan Hantavirus dari hewan ke manusia (zoonosis) terjadi melalui paparan langsung terhadap urine, kotoran, dan air liur hewan yang terinfeksi. Manusia dapat terinfeksi ketika menghirup udara yang terkontaminasi partikel debu dari kotoran tikus yang sudah kering, atau ketika menyentuh permukaan yang terkontaminasi kemudian menyentuh mulut, hidung, atau mata. Penularan antarmanusia sangat jarang terjadi, sehingga fokus pencegahan utama adalah pada pengendalian vektor dan sanitasi lingkungan.

  4. Zona Kerentanan Manado

    Berdasarkan analisis risiko, zona kerentanan tertinggi penyebaran Hantavirus di Kota Manado meliputi empat kategori kawasan. Pertama, permukiman padat penduduk, di mana jarak antarrumah sangat dekat, ventilasi buruk, dan kebersihan lingkungan sulit dikelola. Kedua, pasar tradisional, yang menyediakan sumber makanan melimpah bagi tikus serta memiliki tumpukan sampah organik yang jarang dibersihkan secara tuntas. Ketiga, area pergudangan, yang biasanya gelap, lembab, jarang dibersihkan, dan menjadi tempat persembunyian ideal bagi tikus. Keempat, lingkungan dengan sanitasi buruk secara umum, termasuk saluran air tersumbat, tempat sampah tidak tertutup, serta keberadaan tumpukan barang bekas yang tidak teratur.

  5. Potensi Kerawanan

    Potensi kerawanan dari keberadaan kasus Hantavirus ini adalah terjadinya penyebaran penyakit zoonosis secara lebih luas, khususnya pada kawasan-kawasan yang telah diidentifikasi sebagai zona kerentanan. Permukiman padat penduduk menjadi episentrum potensial karena mobilitas warga tinggi dan kontak antarindividu sering terjadi. Pasar tradisional berisiko menjadi tempat penularan awal sekaligus pusat penyebaran ke wilayah lain karena banyak pengunjung dari berbagai daerah. Area pergudangan dan lingkungan bersanitasi buruk menciptakan siklus hidup vektor yang tidak terkendali. Jika tidak dilakukan langkah antisipasi yang cepat dan terpadu—meliputi surveilans epidemiologi, pengendalian vektor, edukasi masyarakat, serta perbaikan sanitasi lingkungan—maka wabah Hantavirus lokal dapat terjadi dan membebani sistem kesehatan masyarakat Kota Manado.